Pejabat sepak bola Jerman pada Rabu menyatakan kecaman keras terhadap rencana FIFA menjual saham dalam acara yang mereka selenggarakan, termasuk Piala Dunia. Kritik itu muncul seiring kekhawatiran bahwa langkah tersebut akan memperkuat komersialisasi kompetisi dan melemahkan pengaruh komunitas sepak bola.

Gambaran penolakan ini mencakup berbagai tokoh di kancah sepak bola Jerman, dari pengurus asosiasi hingga eksekutif klub besar dan pelatih. Mereka memandang inisiatif itu sebagai perubahan mendasar terhadap hak dan struktur pengelolaan turnamen internasional.
Reaksi pimpinan DFB dan suara Eropa
Hans-Joachim Watzke, Wakil Presiden Persekutuan Bola Sepak Jerman (DFB) sekaligus Wakil Presiden Komite Eksekutif UEFA, menyatakan bahwa banyak pihak di komunitas sepak bola Eropa melihat langkah itu sebagai serangan terhadap olahraga. Ia mengatakan, “Garis telah dilampaui,” dan menyebut ada konsensus luas di antara asosiasi anggota mengenai kekhawatiran tersebut setelah beberapa pembicaraan dengan Presiden UEFA Aleksander Ceferin dan kolega lainnya.
Watzke menambahkan bahwa performa tim-tim Eropa di Piala Dunia—dengan enam tim mencapai perempat final dan tiga sampai semifinal—memberi bobot pada kemungkinan aksi bersama. “Jika sepak bola Eropa bersatu menentang rencana ini, pendirian itu akan memiliki pengaruh besar,” ujarnya.
Rencana FIFA menjual saham: rincian proposal
FIFA mengumumkan niat membentuk anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) untuk menyatukan pengelolaan hak komersial dengan pelaksanaan operasional turnamen, terutama Piala Dunia yang menjadi sumber pendapatan utama organisasi tersebut. Menurut pengumuman, FFE akan dibuka bagi investor swasta untuk mengambil kepemilikan minoritas dan dinilai sebesar AS$20 miliar.
Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan menulis kepada 211 asosiasi anggota bahwa setiap asosiasi akan menerima AS$40 juta—termasuk pembayaran awal AS$20 juta—jika mereka mendukung rencana itu sebelum tenggat 19 September. Asosiasi yang menolak disebut hanya berhak atas AS$2.7 juta melalui mekanisme distribusi global yang ada.
Kecaman dari klub dan pejabat eksekutif
Max Eberl, Anggota Dewan Direksi Bayern Munich, menyampaikan sikap keras terhadap rencana tersebut dan menyebutnya “memalukan.” Pada acara perkenalan pemain baru Bayern, ia mengatakan ia merasa malu karena wacana seperti ini muncul dalam dunia sepak bola. Eberl menegaskan bahwa menurutnya FIFA seharusnya ada untuk mendukung olahraga, menetapkan struktur dan aturan, serta menyelenggarakan Piala Dunia—bukan untuk semata-mata mencari keuntungan.
Ia juga menyambut kecaman UEFA terhadap rencana itu dan menyinggung kabar bahwa UEFA mungkin mempertimbangkan pemboikotan turnamen yang diselenggarakan FIFA. Eberl mengatakan ia bukan pendukung pemboikotan karena percaya pada dialog, tetapi jika sampai pada opsi itu, ia mendukung solidaritas Eropa untuk menolak karena dianggap bertentangan dengan semangat olahraga.
Respons pelatih dan eksekutif klub lain
Suara penolakan juga datang dari lapangan. Pelatih VfB Stuttgart, Sebastian Hoeness, menyebut proposal tersebut sebagai “malapetaka.” Sementara itu, Carsten Cramer, Chief Executive Officer Borussia Dortmund, menyatakan ketidakpahamannya terhadap alasan di balik inisiatif FIFA itu. Ia mengaku tidak melihat rasionalitas di balik upaya menciptakan struktur baru ketika sistem yang ada dinilai masih berfungsi.
Cramer menambahkan bahwa tanggapan awal yang diterima tidak positif, dan ia mempertanyakan kebutuhan untuk merombak pengelolaan yang selama ini berjalan.
Potensi dampak dan suasana di Eropa
Kritik yang datang dari berbagai pihak di Jerman mencerminkan kekhawatiran lebih luas di Eropa mengenai masa depan kepemilikan dan kontrol atas acara sepak bola internasional. Jika negara-negara Eropa benar-benar bersatu menentang rencana itu, tekanan politik dan sportiv kemungkinan besar akan meningkat, sebagaimana diindikasikan oleh para pejabat dan eksekutif klub.
Sampai kini, perdebatan berpusat pada bagaimana keseimbangan antara kebutuhan pendanaan dan integritas kompetisi akan dijaga. Para pengkritik menilai bahwa menjual saham minoritas kepada investor swasta merisaukan karena berpotensi mengubah prioritas pengelolaan dari sportif menjadi finansial.
Pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak FIFA dan reaksi final dari asosiasi anggota akan menentukan apakah rencana tersebut dapat berjalan sesuai proposal atau menghadapi penolakan terkoordinasi dari komunitas sepak bola Eropa.
