Gigi Dall’Igna menegaskan bahwa gelar MotoGP musim ini akan jatuh kepada pembalap yang paling fokus. Menurut direktur umum Ducati itu, kecerdasan balap dan konsistensi mental akan menjadi pembeda di sisa musim.

Pernyataan Dall’Igna datang di tengah klasemen yang masih rapat: Jorge Martín memimpin, sementara Marc Márquez kini menghuni posisi kedua dengan selisih 19 poin setelah seri di MotorLand Aragón.
Paling Fokus dalam Sorotan Publik
Dalam penilaian sang kepala tim, kejuaraan tidak hanya soal kecepatan murni atau jumlah kemenangan. “Menurut saya, kejuaraan ini akan dimenangi oleh siapa yang memiliki kepala paling dingin dari sekarang hingga akhir kejuaraan,” ujar Dall’Igna setelah akhir pekan di Aragón. Ia menekankan pentingnya kemampuan mengambil keputusan tepat dan menjaga ritme sepanjang musim.
Pergerakan klasemen usai Alcañiz
Setelah putaran di MotorLand (Alcañiz), Marc Márquez berhasil memangkas jarak dari puncak. Sebelumnya, pasca-Silverstone, Márquez sempat tertinggal sekitar 40 poin dari pemimpin, namun kemenangan dan hasil konsisten di Aragón membuatnya kini hanya berjarak 19 poin. Márquez mengumpulkan 37 poin pada akhir pekan tersebut, sebuah lonjakan yang membawanya ke posisi kedua klasemen.
Situasi di Alcañiz juga dipengaruhi oleh absennya Ai Ogura akibat cedera, sementara Marco Bezzecchi finis ketiga dalam dua balapan yang digelar. Jorge Martín, pemimpin papan, harus puas dengan dua posisi kelima yang membuat jarak tetap rapat: tiga pembalap teratas kini terhimpun dalam selisih 24 poin.
Aprilia dan Ducati: hitungan kemenangan yang ketat
Dall’Igna juga menyoroti persaingan antar tim pabrikan. Hingga saat ini tercatat tujuh kemenangan untuk tim Noale (Aprilia) dan enam untuk Borgo Panigale (Ducati). Menurut catatan yang ada, semua pembalap Aprilia telah meraih kemenangan musim ini, dengan Marco Bezzecchi menjadi yang terbanyak di jajaran mereka dengan empat kemenangan. Sementara itu, kemenangan Ducati tersebar di beberapa nama termasuk Di Giannantonio, Àlex Márquez, dan Marc Márquez, dengan Marc mengumpulkan empat kemenangan juga.
Direktur Ducati mengakui bahwa RS-GP Aprilia menjadi motor yang sangat komplet pada musim ini dan bahwa pembalap-pembalap Aprilia sedang berada dalam periode performa tinggi, sehingga persaingan antar pabrikan tetap ketat.
Konsistensi dan menghindari ‘nol’ poin
Dall’Igna menekankan aspek pragmatis: bukan jumlah kemenangan mutlak yang menjamin gelar, melainkan konsistensi dan kemampuan untuk tidak melakukan kesalahan besar. “Akan sangat penting mengumpulkan poin dan tidak melakukan kesalahan, karena sejarah beberapa musim terakhir menunjukkan bahwa tidak perlu menang 11 balapan — cukup menang beberapa kali tetapi lebih konsisten, dan terutama jangan pernah mendapatkan nol poin,” ujarnya.
Sisa kalender dan ketidakpastian Qatar
Masih tersisa sembilan seri dalam kalender, meski ada kemungkinan jumlah itu berkurang menjadi delapan jika Grand Prix Qatar akhirnya dibatalkan. Kemungkinan pembatalan tersebut dianggap tinggi mengingat beberapa kejuaraan lain telah memutuskan untuk tidak mengunjungi kawasan Timur Tengah pada periode ini. Dalam konferensi pers di Aragón, Carlos Ezpeleta menyampaikan bahwa situasi Qatar masih dalam evaluasi untuk memastikan apakah balapan bisa digelar atau tidak.
Dengan sisa balapan yang belum sedikit dan kondisi tim serta pembalap yang dinamis, pernyataan Dall’Igna menjadi pengingat bahwa kejuaraan ini mungkin akan ditentukan oleh siapa yang mampu menjaga kepala tetap tenang, mengumpulkan poin secara konsisten, dan menghindari kesalahan fatal sampai akhir musim.
